Buku yang bagus. 'Wanita' sekali. Tak hanya isi hati tapi juga filosofi kehidupan, cinta, dan pencarian 'kebahagiaan, atau sebenarnya keseimbangan hidup. Mungkin pria tak mengerti mengapa wanita punya 'pendapat' atau mimpi2 yang spesifik. Karena itu Liz Gilbert minta cerai, meskipun sebenarnya kehidupannya 'baik-baik' saja, tampak luar. Pergolakan batin dipaparkan secara detail dan panjang. Sehingga pembaca perlu waktu untuk merenungkannya.
Karena itu saya agak pesimis ketika akan menonton filmnya. Apakah film dengan durasi relatif pendek itu bisa mengakomodsi perasaan-perasaan Liz sang tokoh? Maka saya pun nonton dengan santai saja, tak berharap banyak.
Ternyata filmnya bagus juga. Dari sudut pandang sinematografi. Penulis script dan sutradara dengan jeli memilah-milih bagian2 dari buku untuk diangkat ke layar lebar, karena pastinya tak bisa diangkat semua. Dengan sistem narasi (tokohnya), perasaan-perasaan bisa tergambar dengan cukup menyentuh. Misalnya ketika Liz mengingat-ingat peristiwa pernikahannya, yang lucu, dengan suaminya yang sebenarnya memang dicintainya. Atau, kenangannya dengan David -pacar brondongnya-- yang memperkenalkan dia pada meditasi dan mengilhaminya untuk pergi ke India.
Tiga tempat digambarkan cukup lengkap: Italia (Roma), India (pelosok Mumbay), dan Indonesia (Bali). Adegan2 di Roma membuat kita (penonton) ingin ikutan makan pizza dan spageti. Tapi di India saya nggak kepingin ke sana sama sekali, karena terlalu 'slumdog' (millionaire ... hehehe). Di Bali, pingin juga tahu itu tempat di mana saja --orang2 bule selalu menemukan tempat unik di Bali, sementara kita yang orang Indonesia kadang tak melihat tempat itu.
Atau, pingin juga meramal ke Ketut Liyer --btw doi sekarang jadi laris dicari orang untuk meramal---
Pemain Ketut --kalau nggak salah namanya Bambang, orang Jawa, bagus juga, meskipun logatnya bukan Bali, tapi Jawa.
Christine Hakim? Kok cuma segitu ya? Padahal cerita di buku, dia harusnya berperan cukup banyak, bahkan menunjukkan orang Indonesia yang kadang culas saat ketemu orang Bule, 'malak'. Di film ini kagak ada. Yah, mungkin dianggap tak penting.
Ini memang film 'Barat' banget, terutama dalam hal free sex. Wanita sono dengan mudahnya jatuh ke pelukan pria yang disukainya. Kalau wanita Indonesia punya masalah sama dengan Liz, apakah harus keliling dunia dan tidur dengan pria2 yang ditemui? Ya tidak layaow! Ada etika tersendiri di kehidupan kita, terutama dalam hal religi dan hubungan dengan Tuhan. Wis, saya nggak akan berkhotbah, kok.
Senin, 25 Oktober 2010
Kamis, 21 Oktober 2010
Kuis
Musim Kuis telah tiba. Sekarang ini paling tidak ada 4 Kuis di televisi yang bisa diamati. Super Family (ANTV), Ranking 1 (Trans), Satu Lawan 100 (Indosiar), Who Wants to be Millionaire Hot Seat (WWtbMHS. RCTI).
* Super Family, bisa dikata paling menarik. Soalnya tentang hasil polling dari 100 orang, tentang hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari. Mis. apa yang dilakukan orang jika jalanan macet. Apa makanan yang dimulai dengan huruf S. Apa alasan orang tidak masuk kantor. Dsb.
Host-nya Darius Sinatrya, oke, pas, ramah, mampu menguasai panggung. Pesertanya seleb bersama keluarganya. Karena itu orang awam tidak bisa ikut acara ini. Padahal, sesekali dibuka sesi untuk orang2 awam (non-seleb). Begicu!
* Ranking 1. Diset seperti sekolahan, karenanya setiap sesi diberi nama seperti: semester satu, semester akhir, babak praktikum, dsb. Soalnya tentang pengetahuan umum, yang masih masuk akal (gampang2 susah). Yang menarik babak praktikum, bisa menambah wawasan, karena cukup ilmiah walau kadang percobaannya relatif sederhana.
Host-nya Sarah Sechan lumayan, lucu, bisa menguasai kelas, meskipun kadang2 ngocolnya boring. Sayang temannya, Ruben, jelek banget. Pasalnya, dia itu bego (tapi arogan, nggak lucu) nggak cocok jadi 'guru' yang harus menguasai kelas.
Pesertanya bisa umum, tapi harus bawa teman 18 orang. Huuu, banyak amat!!
* Satu Lawan 100, menarik, tentang pengetahuan umum, susah-sudah gampang, tapi masih masuk akal. Idenya menarik, poin didapat dari Mob yang salah jawab.
Host-nya Anjasmara lumayan, meski kadang2 'mati kutu', dengan komen2nya yang begitu2 saja.
Gimana ya caranya kalau orang awam pingin ikut? Nggak ada info.
* WWtbMHS. Ini kuis paling jelek di antara yang ada. Padahal Wh Wants to be a Millionaire yang dulu itu oke banget. Yang sekarang ini, nggak lucu, pertanyaan2 sengaja dibuat sulit yang nggak masuk akal, dalam arti soalnya tidak populer di kalangan orang2 kita. Terlalu jauh. Ada kesan kuis ini nggak rela kalo ada yang menang (dpt duit banyak). Kalau nggak rela, ngapain bikin kuis? Bubarin aja, nggak menarik ini.
Padahal host-nya Ferdy Hasan lumayan 'berwibawa'. Dan awam kalau mo ikutan bisa mendaftar. Tapi mendingan nggak usah mendaftar, pasti kalah deh, nggak ada duit!!
* Sebenanrnya masih ada Kuis yang khas, yakni Missing Lyrics (Trans) dan Happy Song (Indosiar).
Kuis spesifik ini pastinya hanya bisa diikuti oleh orang2 yang suka menyanyi dan hapal judul2 lagu termasuk liriknya. Kalau nggak, mana mungkin ikutan, bisa2 bengong aja.
Ciao!
* Super Family, bisa dikata paling menarik. Soalnya tentang hasil polling dari 100 orang, tentang hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari. Mis. apa yang dilakukan orang jika jalanan macet. Apa makanan yang dimulai dengan huruf S. Apa alasan orang tidak masuk kantor. Dsb.
Host-nya Darius Sinatrya, oke, pas, ramah, mampu menguasai panggung. Pesertanya seleb bersama keluarganya. Karena itu orang awam tidak bisa ikut acara ini. Padahal, sesekali dibuka sesi untuk orang2 awam (non-seleb). Begicu!
* Ranking 1. Diset seperti sekolahan, karenanya setiap sesi diberi nama seperti: semester satu, semester akhir, babak praktikum, dsb. Soalnya tentang pengetahuan umum, yang masih masuk akal (gampang2 susah). Yang menarik babak praktikum, bisa menambah wawasan, karena cukup ilmiah walau kadang percobaannya relatif sederhana.
Host-nya Sarah Sechan lumayan, lucu, bisa menguasai kelas, meskipun kadang2 ngocolnya boring. Sayang temannya, Ruben, jelek banget. Pasalnya, dia itu bego (tapi arogan, nggak lucu) nggak cocok jadi 'guru' yang harus menguasai kelas.
Pesertanya bisa umum, tapi harus bawa teman 18 orang. Huuu, banyak amat!!
* Satu Lawan 100, menarik, tentang pengetahuan umum, susah-sudah gampang, tapi masih masuk akal. Idenya menarik, poin didapat dari Mob yang salah jawab.
Host-nya Anjasmara lumayan, meski kadang2 'mati kutu', dengan komen2nya yang begitu2 saja.
Gimana ya caranya kalau orang awam pingin ikut? Nggak ada info.
* WWtbMHS. Ini kuis paling jelek di antara yang ada. Padahal Wh Wants to be a Millionaire yang dulu itu oke banget. Yang sekarang ini, nggak lucu, pertanyaan2 sengaja dibuat sulit yang nggak masuk akal, dalam arti soalnya tidak populer di kalangan orang2 kita. Terlalu jauh. Ada kesan kuis ini nggak rela kalo ada yang menang (dpt duit banyak). Kalau nggak rela, ngapain bikin kuis? Bubarin aja, nggak menarik ini.
Padahal host-nya Ferdy Hasan lumayan 'berwibawa'. Dan awam kalau mo ikutan bisa mendaftar. Tapi mendingan nggak usah mendaftar, pasti kalah deh, nggak ada duit!!
* Sebenanrnya masih ada Kuis yang khas, yakni Missing Lyrics (Trans) dan Happy Song (Indosiar).
Kuis spesifik ini pastinya hanya bisa diikuti oleh orang2 yang suka menyanyi dan hapal judul2 lagu termasuk liriknya. Kalau nggak, mana mungkin ikutan, bisa2 bengong aja.
Ciao!
Langganan:
Komentar (Atom)