Film yang membawa kemenangan bagi pemeran utamanya, Natalie Portman ini memang ciamiikk. Natalie mendapat piala Golden Globe dan Oscar sekaligus.
Berperan sebagai Nina Sayers yang penari balet dilakukannya dengan sangat meyakinkan. Ia bermain balet dan berkarakter aneh, berkepribadian ganda, suka berhalusinasi, dan anoreksia. Tampangnya pun meyakinkan, seram, dingin --beda banget dengan tampang aslinya yang cantik --tapi memang agak dingin.
Ia sering mendapati badannya baet-baret bekas cakaran. Ia bahkan tak sadar kalau hal itu dilakukannya sendiri. Ibunya yang paham benar kelakuan aneh anaknya, yang sibuk memberi obat, dan semakin protektif.
Penari balet yang satu ini memang dikungkung oleh ibunya yang sangat berambisi anaknya menjadi primadona panggung balet Swan Lake.
Nina pun menyimpan obsesi ingin piawai sebagai Odette (White Swan) sekaligus Odile (Black Swan). Sementara Black Swan membutuhkan karakter yang dinamis, nakal, enerjik. Padahal kepribadian Nina jauh dari itu. Maka ketika ia dihina-dina oleh direktur artistik teater tempatnya menari: dibilang tidak menarik, bodoh, lugu, dan ketahuan tidak pernah berhubungan seks. Apalagi sang direktur mengancam akan memasang Llily sebagai Black Swan yang memang 'canggih' menari balet angsa hitam. Nina pun ngamuk! Ia pun kabur dari rumah, mabuk-mabukan di diskotek dan berhubungan seks dengan ... Lily, teman terdekat yang ada waktu itu.
Menjelang pementasan, Nina yang ingin sukses membawakan angsa hitam, berarti harus tampil 'garang'. Seperti 'kerasukan', diam-diam ia menusukkan sebilah pisau ke tubuh Lily sampai berdarah-darah. Karena ketakutan, ia pun menyembunyikan tubuh Lily di bawah kolong! Ia memang berhasil dengan gemilang menarikan Black Swan. Tapi ternyata ia mendapati Lily masih segar bugar tanpa luka sedikit pun. Nina pun panik, siapa yang ditusuknya? Sementara ia baru menyadari kalau tubuhnya berlumuran darah .... !!! Penulis skenario, sinematografi, dan sutradara (Darren Arranofsky) film ini memang oke punya.
Senin, 07 Maret 2011
Kamis, 27 Januari 2011
Peluang Kaya dari Tanggal Lahir
Peluang Kaya dari Tanggal Lahir. Misteri Kaya dan Miskin menurut metafisika Tiongkok.
Demikian buku yang ditulis oleh Heri Kusrianto, terbit sebulan menjelang Imlek (tapi tak ada hubungannya, sih). Heri yang lebih dikenal sebagai 'orang travel', ternyata punya minat lain yakni Feng Shui dan Empat Pilar, sehingga terwujud buku yang menarik ini.
Menarik, sebab mampu 'meramal' kehidupan seseorang berdasarkan tanggal lahir, bukan shio atau zodiak yang selama ini populer di kalangan masyarakat luas. Bahkan menurut buku ini, tanggal lahir berdasarkan 4 Pilar memberikan hasil ramalan lebih akurat. Karena pada dasarnya kehidupan setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor --yang membuatnya punya hoki berbeda, walaupun mungkin ada orang-orang yang bertanggal lahir sama persis. Faktor-faktor yang mempengaruhi nasib seseorang antara lain pengasuhan (dari orang tua), teman-teman dekat, rumah, pasangan hidup, pekerjaan, dansebagainya.
Untuk meneropong nasib, pertama kali kenali dulu diri sendiri, apakah termasuk Kayu (yin atau yang), Api (yin atau yang), Air (yin atau yang), Tanah (yin atau yang), dan Logam (yin atau yang). Selanjutnya masuk ke rangka 4 Pilar yang terdiri dari Jam, Hari (tanggal), Bulan, dan Tahun, yang berisi 8 kolom yakni 4 bagian atas adalah simbol Batang Langit dan 4 bagian bawah simbol Cabang Bumi.
Di sini kita perlu menggunakan software 4 Pilar (tersedia di dalam buku). Setelah kita isi jam, tanggal, bulan, dan tahun lahir, akan keluar diagram yang menunjukkan Elemen Pribadi kita (Api, Air, Tanah, Logam, Kayu, dan apakah termasuk kuat atau lemah). Untuk bisa membaca dengan benar hasil dari diagram, kita mesti pelajari dulu tentang sifat-sifat elemen, siklus penguatan, siklus pelemahan, siklus penghancuran, dan clash.
Buku yang menarik, karena kita bisa meramal diri sendiri, bahkan termasuk 'nasib' per sepuluh tahunan, meskipun agak rumit, karena membutuhkan otak kanan dan kiri untuk menelaahnya.
Demikian buku yang ditulis oleh Heri Kusrianto, terbit sebulan menjelang Imlek (tapi tak ada hubungannya, sih). Heri yang lebih dikenal sebagai 'orang travel', ternyata punya minat lain yakni Feng Shui dan Empat Pilar, sehingga terwujud buku yang menarik ini.
Menarik, sebab mampu 'meramal' kehidupan seseorang berdasarkan tanggal lahir, bukan shio atau zodiak yang selama ini populer di kalangan masyarakat luas. Bahkan menurut buku ini, tanggal lahir berdasarkan 4 Pilar memberikan hasil ramalan lebih akurat. Karena pada dasarnya kehidupan setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor --yang membuatnya punya hoki berbeda, walaupun mungkin ada orang-orang yang bertanggal lahir sama persis. Faktor-faktor yang mempengaruhi nasib seseorang antara lain pengasuhan (dari orang tua), teman-teman dekat, rumah, pasangan hidup, pekerjaan, dansebagainya.
Untuk meneropong nasib, pertama kali kenali dulu diri sendiri, apakah termasuk Kayu (yin atau yang), Api (yin atau yang), Air (yin atau yang), Tanah (yin atau yang), dan Logam (yin atau yang). Selanjutnya masuk ke rangka 4 Pilar yang terdiri dari Jam, Hari (tanggal), Bulan, dan Tahun, yang berisi 8 kolom yakni 4 bagian atas adalah simbol Batang Langit dan 4 bagian bawah simbol Cabang Bumi.
Di sini kita perlu menggunakan software 4 Pilar (tersedia di dalam buku). Setelah kita isi jam, tanggal, bulan, dan tahun lahir, akan keluar diagram yang menunjukkan Elemen Pribadi kita (Api, Air, Tanah, Logam, Kayu, dan apakah termasuk kuat atau lemah). Untuk bisa membaca dengan benar hasil dari diagram, kita mesti pelajari dulu tentang sifat-sifat elemen, siklus penguatan, siklus pelemahan, siklus penghancuran, dan clash.
Buku yang menarik, karena kita bisa meramal diri sendiri, bahkan termasuk 'nasib' per sepuluh tahunan, meskipun agak rumit, karena membutuhkan otak kanan dan kiri untuk menelaahnya.
Selasa, 18 Januari 2011
Belajar Bahagia
Ini sebuah buku perenungan, refleksi perjalanan perkawinan selama 20 tahun milik Dian Syarief dan Eko Pratomo. Pasangan yang saya kenal sejak bertahun lalu, ketika Dian bekerja di sebuah bank dan saya aktif sebagai jurnalis.
Buku yang manis, ditulis dengan 'lugas', apa adanya, tanpa bunga-bunga, sehingga terasa 'asli'
Kehidupan Dian memang tidak mudah. Dengan lupus yang 'menemaninya', tentu banyak upaya yang harus dilakukannya. Namun semangatnya tak pernah padam. Bahkan membuahkan sesuatu yang dahsyat. Yang bernama Syamsi Dhuha Foundation. (Tapi bukan berarti kalau Dian tidak sakit tidak melakukan apa-apa).
Dari buku mungil ini cukup tercakup perjuangan hidupnya yang penuh warna, mungkin air mata, tapi juga taqwa dan keikhlasan --ini yang mendominasi buku ini. Tentang sakit hanya muncul di judul 'Pita Suara & Kista', selebihnya berisi kekuatan jiwa dalam menjalani kehidupan. Ada yang sangat menyentuh: 'Jalan Mendaki', "Kuatkan', 'Uban', 'Laron', 'Lorong Waktu'. 'Takut', dll.
Kesan kehidupan perkawinan Dian selama 20 tahun diungkapkannya dalam judul2: 'Refleksi 20 Tahun Pernikahan', '20 Tahun Pernikahan', 'Pernikahan', 'Unconditional Love'.
Dengan yayasan lupusnya, Dian banyak berbuat dan berbagi bagi orang2 yang kurang beruntung.
Itulah Dian, sosok tegar yang memancarkan 'spiritnya' pada lingkungan sekitarnya. Alangkah indahnya bumi ini jika dipenuhi dengan wanita-wanita seperti Dian.
Buku yang manis, ditulis dengan 'lugas', apa adanya, tanpa bunga-bunga, sehingga terasa 'asli'
Kehidupan Dian memang tidak mudah. Dengan lupus yang 'menemaninya', tentu banyak upaya yang harus dilakukannya. Namun semangatnya tak pernah padam. Bahkan membuahkan sesuatu yang dahsyat. Yang bernama Syamsi Dhuha Foundation. (Tapi bukan berarti kalau Dian tidak sakit tidak melakukan apa-apa).
Dari buku mungil ini cukup tercakup perjuangan hidupnya yang penuh warna, mungkin air mata, tapi juga taqwa dan keikhlasan --ini yang mendominasi buku ini. Tentang sakit hanya muncul di judul 'Pita Suara & Kista', selebihnya berisi kekuatan jiwa dalam menjalani kehidupan. Ada yang sangat menyentuh: 'Jalan Mendaki', "Kuatkan', 'Uban', 'Laron', 'Lorong Waktu'. 'Takut', dll.
Kesan kehidupan perkawinan Dian selama 20 tahun diungkapkannya dalam judul2: 'Refleksi 20 Tahun Pernikahan', '20 Tahun Pernikahan', 'Pernikahan', 'Unconditional Love'.
Dengan yayasan lupusnya, Dian banyak berbuat dan berbagi bagi orang2 yang kurang beruntung.
Itulah Dian, sosok tegar yang memancarkan 'spiritnya' pada lingkungan sekitarnya. Alangkah indahnya bumi ini jika dipenuhi dengan wanita-wanita seperti Dian.
Senin, 20 Desember 2010
It's Complicated
Alexandra Dewi benar. Bahwa sebaiknya sekolah-sekolah (mungkin SMP, SMU) mengajarkan tentang cinta. Soalnya, hal yang satu ini adalah salah satu dari aspek kehidupan terutama dalam hal relasi dengan orang lain. Kalau ada teori manajemen atau bisnis agar kita sukses mengatur dan berbisnis, mestinya ada teori tentang cinta agar kita sukses dalam cinta.
Menurut Dewi, kehidupan cinta banyak nuansanya dan akan mudah terjadi kekusutan, kebingungan, kegagalan. Banyak orang yang tak tahu apa yang harus dilakukan saat menemukan masalah. Keputusan yang diambil bisa jadi emosional, tidak rasional, yang berbuntut penyesalan. Maka, di buku It's Complicated, Dewi memberikan tip & trik untuk menghadapi berbagai masalah cinta.
Dewi memang bukan psikolog, tapi di sinilah kekuatannya, bahwa ia suka memperhatikan dan melihat segala sesuatu dengan mata jernih, rasional, masuk akal. Karena sebenarnya memang ada teori tentang cinta, berdasarkan pengalaman tapi juga ilmu psikologi dan fisiologi (berhubungan dengan perubahan hormon di dalam tubuh, misalnya).
Dewi menuliskannya dengan ringan, bahkan banyak kalimat atau istilah-istilah lucu. Contohnya di Introduction:
... ketika kita sedang jatuh cinta, rasanya seperti orang sedang menyerahkan kartu ATM beserta PIN-nya kpd orang yang menghipnotis ... hahaha. Atau, istilah muntaber: mundur tanpa berita. Atau, ... kabur secepat road runner, beep, beep!!
Satu lagi yang saya sangat setuju adalah wanita tak perlu materialistis, tapi jangan lupa bawa kalkulator ke mana-mana ... hahaha!! Benar sekali, kalau mau hubungan langgeng dan aman mesti pake perhitungan. Relationship kan investasi jangka panjang, kalau nggak punya modal atau modal cuma dikit, ya mudah kena krisis (ini mah istilah saya sendiri).
Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja, wanita muda atau dewasa (bahkan yang sudah punya cucu tapi tiba-tiba pingin cerai). Dewi bilang juga bisa dibaca para pria. Ya, urusan cinta kan memang menyangkut pria dan wanita.
Kalau eksesnya Dewi sekarang dianggap sebagai konsultan cinta, ya nikmati saja Dew.
Bravo!!
Menurut Dewi, kehidupan cinta banyak nuansanya dan akan mudah terjadi kekusutan, kebingungan, kegagalan. Banyak orang yang tak tahu apa yang harus dilakukan saat menemukan masalah. Keputusan yang diambil bisa jadi emosional, tidak rasional, yang berbuntut penyesalan. Maka, di buku It's Complicated, Dewi memberikan tip & trik untuk menghadapi berbagai masalah cinta.
Dewi memang bukan psikolog, tapi di sinilah kekuatannya, bahwa ia suka memperhatikan dan melihat segala sesuatu dengan mata jernih, rasional, masuk akal. Karena sebenarnya memang ada teori tentang cinta, berdasarkan pengalaman tapi juga ilmu psikologi dan fisiologi (berhubungan dengan perubahan hormon di dalam tubuh, misalnya).
Dewi menuliskannya dengan ringan, bahkan banyak kalimat atau istilah-istilah lucu. Contohnya di Introduction:
... ketika kita sedang jatuh cinta, rasanya seperti orang sedang menyerahkan kartu ATM beserta PIN-nya kpd orang yang menghipnotis ... hahaha. Atau, istilah muntaber: mundur tanpa berita. Atau, ... kabur secepat road runner, beep, beep!!
Satu lagi yang saya sangat setuju adalah wanita tak perlu materialistis, tapi jangan lupa bawa kalkulator ke mana-mana ... hahaha!! Benar sekali, kalau mau hubungan langgeng dan aman mesti pake perhitungan. Relationship kan investasi jangka panjang, kalau nggak punya modal atau modal cuma dikit, ya mudah kena krisis (ini mah istilah saya sendiri).
Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja, wanita muda atau dewasa (bahkan yang sudah punya cucu tapi tiba-tiba pingin cerai). Dewi bilang juga bisa dibaca para pria. Ya, urusan cinta kan memang menyangkut pria dan wanita.
Kalau eksesnya Dewi sekarang dianggap sebagai konsultan cinta, ya nikmati saja Dew.
Bravo!!
Selasa, 23 November 2010
Keindahan Batik dalam Lukisan
Batik itu indah. Lebih indah lagi ketika dibuat sebagai lukisan, yang kali ini merupakan karya Mardijanto (1927-2004).
Hampir semua lukisan tampak indah ketika terpajang di diding galeri. Berwarna-warni, dalam paduan yang harmonis. Dibuat lama beberapa tahun lalu, tapi ada yang relevan dengan masa kini, yaitu gunung yang mengeluarkan asap. Ada dua lukisan gunung, berwarna biru kehijauan dan serba oranye.
Yang lain adalah tentang ikan, bunga, sayap-sayap, wajah-wajah. Ada yang mirip motif batik klasik, namun banyak yang berupa abstrak, karya Sang Pelukis sendiri. Misalnya juring-juring dalam kanvas horizontal, masing-masing juring bercorak batik. Lalu, lukisan dalam kanvas besar, yang benar-benar merupakan komposisi warna (abstrak). Yang menarik, semuanya diproses batik (dengan lilin malam). Namun garis-garis goresan mungkin dilakukan dengan kuas.
Pameran berlangsung tanggal 18 sampai 21 November 2010 di Ciputra Marketing Gallery, Jakarta Selatan. Dihadiri ibu-ibu dari Yayasan Batik Indonesia pimpinan Ibu Ginanjar Kartasasmita dan dibuka oleh wakil Menteri Budpar, Bapak Surya Yuga, MSi.
Hampir semua lukisan tampak indah ketika terpajang di diding galeri. Berwarna-warni, dalam paduan yang harmonis. Dibuat lama beberapa tahun lalu, tapi ada yang relevan dengan masa kini, yaitu gunung yang mengeluarkan asap. Ada dua lukisan gunung, berwarna biru kehijauan dan serba oranye.
Yang lain adalah tentang ikan, bunga, sayap-sayap, wajah-wajah. Ada yang mirip motif batik klasik, namun banyak yang berupa abstrak, karya Sang Pelukis sendiri. Misalnya juring-juring dalam kanvas horizontal, masing-masing juring bercorak batik. Lalu, lukisan dalam kanvas besar, yang benar-benar merupakan komposisi warna (abstrak). Yang menarik, semuanya diproses batik (dengan lilin malam). Namun garis-garis goresan mungkin dilakukan dengan kuas.
Pameran berlangsung tanggal 18 sampai 21 November 2010 di Ciputra Marketing Gallery, Jakarta Selatan. Dihadiri ibu-ibu dari Yayasan Batik Indonesia pimpinan Ibu Ginanjar Kartasasmita dan dibuka oleh wakil Menteri Budpar, Bapak Surya Yuga, MSi.
Senin, 25 Oktober 2010
Eat Pray Love
Buku yang bagus. 'Wanita' sekali. Tak hanya isi hati tapi juga filosofi kehidupan, cinta, dan pencarian 'kebahagiaan, atau sebenarnya keseimbangan hidup. Mungkin pria tak mengerti mengapa wanita punya 'pendapat' atau mimpi2 yang spesifik. Karena itu Liz Gilbert minta cerai, meskipun sebenarnya kehidupannya 'baik-baik' saja, tampak luar. Pergolakan batin dipaparkan secara detail dan panjang. Sehingga pembaca perlu waktu untuk merenungkannya.
Karena itu saya agak pesimis ketika akan menonton filmnya. Apakah film dengan durasi relatif pendek itu bisa mengakomodsi perasaan-perasaan Liz sang tokoh? Maka saya pun nonton dengan santai saja, tak berharap banyak.
Ternyata filmnya bagus juga. Dari sudut pandang sinematografi. Penulis script dan sutradara dengan jeli memilah-milih bagian2 dari buku untuk diangkat ke layar lebar, karena pastinya tak bisa diangkat semua. Dengan sistem narasi (tokohnya), perasaan-perasaan bisa tergambar dengan cukup menyentuh. Misalnya ketika Liz mengingat-ingat peristiwa pernikahannya, yang lucu, dengan suaminya yang sebenarnya memang dicintainya. Atau, kenangannya dengan David -pacar brondongnya-- yang memperkenalkan dia pada meditasi dan mengilhaminya untuk pergi ke India.
Tiga tempat digambarkan cukup lengkap: Italia (Roma), India (pelosok Mumbay), dan Indonesia (Bali). Adegan2 di Roma membuat kita (penonton) ingin ikutan makan pizza dan spageti. Tapi di India saya nggak kepingin ke sana sama sekali, karena terlalu 'slumdog' (millionaire ... hehehe). Di Bali, pingin juga tahu itu tempat di mana saja --orang2 bule selalu menemukan tempat unik di Bali, sementara kita yang orang Indonesia kadang tak melihat tempat itu.
Atau, pingin juga meramal ke Ketut Liyer --btw doi sekarang jadi laris dicari orang untuk meramal---
Pemain Ketut --kalau nggak salah namanya Bambang, orang Jawa, bagus juga, meskipun logatnya bukan Bali, tapi Jawa.
Christine Hakim? Kok cuma segitu ya? Padahal cerita di buku, dia harusnya berperan cukup banyak, bahkan menunjukkan orang Indonesia yang kadang culas saat ketemu orang Bule, 'malak'. Di film ini kagak ada. Yah, mungkin dianggap tak penting.
Ini memang film 'Barat' banget, terutama dalam hal free sex. Wanita sono dengan mudahnya jatuh ke pelukan pria yang disukainya. Kalau wanita Indonesia punya masalah sama dengan Liz, apakah harus keliling dunia dan tidur dengan pria2 yang ditemui? Ya tidak layaow! Ada etika tersendiri di kehidupan kita, terutama dalam hal religi dan hubungan dengan Tuhan. Wis, saya nggak akan berkhotbah, kok.
Karena itu saya agak pesimis ketika akan menonton filmnya. Apakah film dengan durasi relatif pendek itu bisa mengakomodsi perasaan-perasaan Liz sang tokoh? Maka saya pun nonton dengan santai saja, tak berharap banyak.
Ternyata filmnya bagus juga. Dari sudut pandang sinematografi. Penulis script dan sutradara dengan jeli memilah-milih bagian2 dari buku untuk diangkat ke layar lebar, karena pastinya tak bisa diangkat semua. Dengan sistem narasi (tokohnya), perasaan-perasaan bisa tergambar dengan cukup menyentuh. Misalnya ketika Liz mengingat-ingat peristiwa pernikahannya, yang lucu, dengan suaminya yang sebenarnya memang dicintainya. Atau, kenangannya dengan David -pacar brondongnya-- yang memperkenalkan dia pada meditasi dan mengilhaminya untuk pergi ke India.
Tiga tempat digambarkan cukup lengkap: Italia (Roma), India (pelosok Mumbay), dan Indonesia (Bali). Adegan2 di Roma membuat kita (penonton) ingin ikutan makan pizza dan spageti. Tapi di India saya nggak kepingin ke sana sama sekali, karena terlalu 'slumdog' (millionaire ... hehehe). Di Bali, pingin juga tahu itu tempat di mana saja --orang2 bule selalu menemukan tempat unik di Bali, sementara kita yang orang Indonesia kadang tak melihat tempat itu.
Atau, pingin juga meramal ke Ketut Liyer --btw doi sekarang jadi laris dicari orang untuk meramal---
Pemain Ketut --kalau nggak salah namanya Bambang, orang Jawa, bagus juga, meskipun logatnya bukan Bali, tapi Jawa.
Christine Hakim? Kok cuma segitu ya? Padahal cerita di buku, dia harusnya berperan cukup banyak, bahkan menunjukkan orang Indonesia yang kadang culas saat ketemu orang Bule, 'malak'. Di film ini kagak ada. Yah, mungkin dianggap tak penting.
Ini memang film 'Barat' banget, terutama dalam hal free sex. Wanita sono dengan mudahnya jatuh ke pelukan pria yang disukainya. Kalau wanita Indonesia punya masalah sama dengan Liz, apakah harus keliling dunia dan tidur dengan pria2 yang ditemui? Ya tidak layaow! Ada etika tersendiri di kehidupan kita, terutama dalam hal religi dan hubungan dengan Tuhan. Wis, saya nggak akan berkhotbah, kok.
Kamis, 21 Oktober 2010
Kuis
Musim Kuis telah tiba. Sekarang ini paling tidak ada 4 Kuis di televisi yang bisa diamati. Super Family (ANTV), Ranking 1 (Trans), Satu Lawan 100 (Indosiar), Who Wants to be Millionaire Hot Seat (WWtbMHS. RCTI).
* Super Family, bisa dikata paling menarik. Soalnya tentang hasil polling dari 100 orang, tentang hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari. Mis. apa yang dilakukan orang jika jalanan macet. Apa makanan yang dimulai dengan huruf S. Apa alasan orang tidak masuk kantor. Dsb.
Host-nya Darius Sinatrya, oke, pas, ramah, mampu menguasai panggung. Pesertanya seleb bersama keluarganya. Karena itu orang awam tidak bisa ikut acara ini. Padahal, sesekali dibuka sesi untuk orang2 awam (non-seleb). Begicu!
* Ranking 1. Diset seperti sekolahan, karenanya setiap sesi diberi nama seperti: semester satu, semester akhir, babak praktikum, dsb. Soalnya tentang pengetahuan umum, yang masih masuk akal (gampang2 susah). Yang menarik babak praktikum, bisa menambah wawasan, karena cukup ilmiah walau kadang percobaannya relatif sederhana.
Host-nya Sarah Sechan lumayan, lucu, bisa menguasai kelas, meskipun kadang2 ngocolnya boring. Sayang temannya, Ruben, jelek banget. Pasalnya, dia itu bego (tapi arogan, nggak lucu) nggak cocok jadi 'guru' yang harus menguasai kelas.
Pesertanya bisa umum, tapi harus bawa teman 18 orang. Huuu, banyak amat!!
* Satu Lawan 100, menarik, tentang pengetahuan umum, susah-sudah gampang, tapi masih masuk akal. Idenya menarik, poin didapat dari Mob yang salah jawab.
Host-nya Anjasmara lumayan, meski kadang2 'mati kutu', dengan komen2nya yang begitu2 saja.
Gimana ya caranya kalau orang awam pingin ikut? Nggak ada info.
* WWtbMHS. Ini kuis paling jelek di antara yang ada. Padahal Wh Wants to be a Millionaire yang dulu itu oke banget. Yang sekarang ini, nggak lucu, pertanyaan2 sengaja dibuat sulit yang nggak masuk akal, dalam arti soalnya tidak populer di kalangan orang2 kita. Terlalu jauh. Ada kesan kuis ini nggak rela kalo ada yang menang (dpt duit banyak). Kalau nggak rela, ngapain bikin kuis? Bubarin aja, nggak menarik ini.
Padahal host-nya Ferdy Hasan lumayan 'berwibawa'. Dan awam kalau mo ikutan bisa mendaftar. Tapi mendingan nggak usah mendaftar, pasti kalah deh, nggak ada duit!!
* Sebenanrnya masih ada Kuis yang khas, yakni Missing Lyrics (Trans) dan Happy Song (Indosiar).
Kuis spesifik ini pastinya hanya bisa diikuti oleh orang2 yang suka menyanyi dan hapal judul2 lagu termasuk liriknya. Kalau nggak, mana mungkin ikutan, bisa2 bengong aja.
Ciao!
* Super Family, bisa dikata paling menarik. Soalnya tentang hasil polling dari 100 orang, tentang hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari. Mis. apa yang dilakukan orang jika jalanan macet. Apa makanan yang dimulai dengan huruf S. Apa alasan orang tidak masuk kantor. Dsb.
Host-nya Darius Sinatrya, oke, pas, ramah, mampu menguasai panggung. Pesertanya seleb bersama keluarganya. Karena itu orang awam tidak bisa ikut acara ini. Padahal, sesekali dibuka sesi untuk orang2 awam (non-seleb). Begicu!
* Ranking 1. Diset seperti sekolahan, karenanya setiap sesi diberi nama seperti: semester satu, semester akhir, babak praktikum, dsb. Soalnya tentang pengetahuan umum, yang masih masuk akal (gampang2 susah). Yang menarik babak praktikum, bisa menambah wawasan, karena cukup ilmiah walau kadang percobaannya relatif sederhana.
Host-nya Sarah Sechan lumayan, lucu, bisa menguasai kelas, meskipun kadang2 ngocolnya boring. Sayang temannya, Ruben, jelek banget. Pasalnya, dia itu bego (tapi arogan, nggak lucu) nggak cocok jadi 'guru' yang harus menguasai kelas.
Pesertanya bisa umum, tapi harus bawa teman 18 orang. Huuu, banyak amat!!
* Satu Lawan 100, menarik, tentang pengetahuan umum, susah-sudah gampang, tapi masih masuk akal. Idenya menarik, poin didapat dari Mob yang salah jawab.
Host-nya Anjasmara lumayan, meski kadang2 'mati kutu', dengan komen2nya yang begitu2 saja.
Gimana ya caranya kalau orang awam pingin ikut? Nggak ada info.
* WWtbMHS. Ini kuis paling jelek di antara yang ada. Padahal Wh Wants to be a Millionaire yang dulu itu oke banget. Yang sekarang ini, nggak lucu, pertanyaan2 sengaja dibuat sulit yang nggak masuk akal, dalam arti soalnya tidak populer di kalangan orang2 kita. Terlalu jauh. Ada kesan kuis ini nggak rela kalo ada yang menang (dpt duit banyak). Kalau nggak rela, ngapain bikin kuis? Bubarin aja, nggak menarik ini.
Padahal host-nya Ferdy Hasan lumayan 'berwibawa'. Dan awam kalau mo ikutan bisa mendaftar. Tapi mendingan nggak usah mendaftar, pasti kalah deh, nggak ada duit!!
* Sebenanrnya masih ada Kuis yang khas, yakni Missing Lyrics (Trans) dan Happy Song (Indosiar).
Kuis spesifik ini pastinya hanya bisa diikuti oleh orang2 yang suka menyanyi dan hapal judul2 lagu termasuk liriknya. Kalau nggak, mana mungkin ikutan, bisa2 bengong aja.
Ciao!
Langganan:
Postingan (Atom)

