Senin, 20 Desember 2010

It's Complicated

Alexandra Dewi  benar. Bahwa sebaiknya sekolah-sekolah (mungkin SMP, SMU) mengajarkan tentang cinta. Soalnya, hal yang satu ini adalah salah satu dari aspek kehidupan terutama dalam hal relasi dengan orang lain. Kalau ada teori manajemen atau bisnis agar kita sukses mengatur dan berbisnis, mestinya  ada teori tentang cinta agar  kita sukses dalam cinta.

Menurut Dewi, kehidupan cinta banyak nuansanya dan akan mudah terjadi kekusutan, kebingungan, kegagalan. Banyak orang yang tak tahu apa yang harus dilakukan saat menemukan masalah. Keputusan yang diambil bisa jadi emosional, tidak rasional, yang berbuntut penyesalan. Maka, di buku It's Complicated, Dewi memberikan tip & trik untuk menghadapi berbagai masalah cinta.

Dewi memang bukan psikolog, tapi di sinilah kekuatannya, bahwa ia suka memperhatikan dan melihat segala sesuatu dengan mata jernih, rasional, masuk akal. Karena sebenarnya memang ada teori tentang cinta, berdasarkan pengalaman tapi juga ilmu psikologi dan fisiologi (berhubungan dengan perubahan hormon di dalam tubuh, misalnya).

Dewi menuliskannya dengan ringan, bahkan banyak kalimat atau istilah-istilah lucu. Contohnya di Introduction:
... ketika kita sedang jatuh cinta, rasanya seperti orang sedang menyerahkan kartu ATM beserta PIN-nya kpd orang yang menghipnotis ... hahaha. Atau, istilah muntaber: mundur tanpa berita. Atau, ... kabur secepat road runner, beep, beep!!

Satu lagi yang saya sangat setuju adalah wanita tak  perlu materialistis, tapi jangan lupa bawa kalkulator ke mana-mana ... hahaha!! Benar sekali, kalau mau  hubungan langgeng dan aman mesti pake perhitungan. Relationship kan investasi jangka panjang, kalau nggak punya modal atau modal cuma dikit, ya mudah  kena krisis (ini mah istilah saya sendiri). 

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja, wanita muda atau dewasa (bahkan yang sudah punya cucu tapi tiba-tiba pingin cerai). Dewi bilang juga bisa dibaca para pria. Ya, urusan cinta kan memang menyangkut pria dan wanita.

Kalau eksesnya Dewi sekarang dianggap sebagai konsultan cinta, ya nikmati saja Dew.
Bravo!! 

Selasa, 23 November 2010

Keindahan Batik dalam Lukisan

Batik itu indah. Lebih indah lagi ketika dibuat sebagai lukisan, yang kali ini merupakan karya Mardijanto (1927-2004).
Hampir semua lukisan tampak indah ketika terpajang di diding galeri. Berwarna-warni, dalam paduan yang harmonis. Dibuat lama beberapa tahun lalu, tapi ada yang relevan dengan masa kini, yaitu gunung yang mengeluarkan asap. Ada dua lukisan gunung, berwarna biru kehijauan dan serba oranye.

Yang lain adalah tentang ikan, bunga, sayap-sayap, wajah-wajah. Ada yang mirip motif batik klasik, namun banyak yang berupa abstrak, karya  Sang Pelukis sendiri. Misalnya juring-juring dalam kanvas horizontal, masing-masing juring bercorak batik. Lalu, lukisan dalam kanvas besar, yang benar-benar merupakan komposisi warna (abstrak). Yang menarik, semuanya diproses batik (dengan lilin malam). Namun  garis-garis goresan mungkin dilakukan dengan kuas.

Pameran berlangsung tanggal 18 sampai 21 November 2010 di Ciputra Marketing Gallery, Jakarta Selatan. Dihadiri ibu-ibu dari Yayasan Batik Indonesia pimpinan Ibu Ginanjar Kartasasmita dan dibuka oleh wakil Menteri Budpar, Bapak Surya Yuga, MSi. 
 

Senin, 25 Oktober 2010

Eat Pray Love

Buku yang bagus. 'Wanita' sekali. Tak hanya isi hati tapi juga filosofi kehidupan, cinta, dan pencarian 'kebahagiaan, atau sebenarnya keseimbangan hidup. Mungkin pria tak mengerti mengapa wanita punya 'pendapat' atau mimpi2  yang spesifik. Karena itu Liz Gilbert minta cerai, meskipun sebenarnya kehidupannya 'baik-baik' saja, tampak luar. Pergolakan batin dipaparkan secara detail dan panjang. Sehingga pembaca perlu waktu untuk merenungkannya. 
Karena itu saya agak pesimis ketika akan menonton filmnya. Apakah film dengan durasi relatif pendek  itu bisa mengakomodsi perasaan-perasaan Liz sang tokoh? Maka saya pun nonton dengan santai saja, tak berharap banyak.
Ternyata filmnya bagus juga. Dari sudut pandang sinematografi. Penulis script dan sutradara dengan jeli memilah-milih bagian2 dari buku untuk diangkat ke layar lebar, karena pastinya tak bisa diangkat semua. Dengan sistem narasi (tokohnya), perasaan-perasaan bisa tergambar dengan cukup menyentuh. Misalnya ketika Liz mengingat-ingat peristiwa pernikahannya, yang lucu, dengan suaminya yang sebenarnya memang dicintainya. Atau, kenangannya dengan David -pacar brondongnya-- yang memperkenalkan dia pada  meditasi dan mengilhaminya untuk pergi ke India.
Tiga tempat digambarkan cukup lengkap: Italia (Roma), India (pelosok Mumbay), dan Indonesia (Bali). Adegan2 di Roma membuat kita (penonton) ingin ikutan makan pizza dan spageti. Tapi di India saya nggak kepingin ke sana sama sekali, karena terlalu 'slumdog' (millionaire ... hehehe). Di Bali, pingin juga tahu itu tempat di  mana saja --orang2 bule selalu menemukan tempat unik di Bali, sementara kita yang orang Indonesia kadang tak melihat tempat itu.
Atau, pingin juga meramal ke Ketut Liyer --btw doi sekarang  jadi laris dicari orang untuk meramal---
Pemain Ketut --kalau nggak salah namanya Bambang, orang Jawa, bagus juga, meskipun logatnya bukan Bali, tapi Jawa.
Christine Hakim? Kok cuma segitu ya? Padahal cerita di buku, dia harusnya berperan cukup banyak, bahkan menunjukkan orang Indonesia yang kadang culas saat ketemu orang Bule, 'malak'. Di film ini kagak ada. Yah, mungkin dianggap tak penting.
Ini memang film 'Barat' banget, terutama dalam hal free sex. Wanita sono dengan mudahnya jatuh ke pelukan pria yang disukainya. Kalau wanita Indonesia punya masalah sama dengan Liz, apakah harus  keliling dunia dan tidur  dengan pria2 yang ditemui? Ya tidak layaow! Ada etika tersendiri di kehidupan kita, terutama dalam hal religi dan hubungan dengan Tuhan. Wis, saya nggak akan berkhotbah, kok.

Kamis, 21 Oktober 2010

Kuis

Musim Kuis telah tiba. Sekarang ini paling tidak ada 4 Kuis di televisi yang bisa diamati. Super Family (ANTV), Ranking 1 (Trans), Satu Lawan 100 (Indosiar), Who Wants to be Millionaire Hot Seat (WWtbMHS. RCTI).

* Super Family, bisa dikata paling menarik. Soalnya tentang hasil polling dari 100 orang, tentang hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari. Mis. apa yang dilakukan orang jika jalanan macet. Apa makanan yang dimulai dengan huruf S. Apa alasan orang tidak masuk kantor. Dsb.
Host-nya Darius Sinatrya, oke, pas, ramah, mampu menguasai panggung. Pesertanya seleb bersama keluarganya. Karena itu orang awam tidak bisa ikut acara ini. Padahal, sesekali dibuka sesi untuk orang2 awam (non-seleb). Begicu!

* Ranking 1. Diset seperti sekolahan, karenanya setiap sesi diberi nama seperti: semester satu, semester akhir, babak praktikum, dsb. Soalnya tentang pengetahuan umum, yang masih masuk akal (gampang2 susah). Yang menarik babak praktikum, bisa menambah wawasan, karena cukup ilmiah walau kadang percobaannya relatif sederhana.
Host-nya Sarah Sechan lumayan, lucu, bisa menguasai kelas, meskipun kadang2 ngocolnya  boring. Sayang temannya, Ruben, jelek banget. Pasalnya, dia itu bego (tapi arogan, nggak lucu) nggak cocok jadi 'guru' yang harus menguasai kelas. 
Pesertanya bisa umum, tapi harus bawa teman 18 orang. Huuu, banyak amat!!

* Satu Lawan 100, menarik, tentang pengetahuan umum, susah-sudah gampang, tapi masih masuk akal. Idenya menarik, poin didapat dari Mob yang salah jawab.
Host-nya Anjasmara lumayan,  meski kadang2 'mati kutu', dengan komen2nya yang begitu2 saja.
Gimana ya caranya kalau orang awam pingin ikut? Nggak ada info.

* WWtbMHS. Ini kuis paling jelek di antara yang ada. Padahal Wh Wants to be a Millionaire yang dulu itu oke banget. Yang sekarang ini, nggak lucu,  pertanyaan2 sengaja dibuat sulit yang nggak masuk akal, dalam arti soalnya tidak populer di kalangan orang2 kita. Terlalu jauh. Ada kesan kuis ini nggak rela kalo ada yang menang (dpt duit banyak). Kalau nggak rela, ngapain bikin kuis?  Bubarin aja, nggak menarik ini.
Padahal host-nya Ferdy Hasan lumayan 'berwibawa'. Dan awam kalau mo ikutan bisa mendaftar. Tapi mendingan nggak usah mendaftar, pasti kalah  deh, nggak ada duit!!

* Sebenanrnya masih ada Kuis yang khas, yakni Missing Lyrics (Trans) dan Happy Song (Indosiar).
Kuis spesifik ini pastinya hanya bisa diikuti oleh orang2 yang suka menyanyi dan hapal judul2 lagu termasuk liriknya. Kalau nggak, mana mungkin ikutan, bisa2 bengong aja.

Ciao!   

Senin, 27 September 2010

He is Beautiful

     Cukup banyak serial teve Korea yang menarik. Selain Winter Sonata, Dae Jang Geum, Boys Before Flower (BBF), Coffee Prince, ada yang agak baru: He is Beautiful.
Mirip dengan Coffee Prince, tokoh utama serial ini seorang gadis yang menyamar jadi laki-laki.
     Kekuatan serial ini adalah pada drama komedinya. Semua unsur digarap rapi. Mulai dari casting, para pemeran utama dan pendamping sangat pas, bisa akting sesuai karakter yang diharapkan, dan konsisten.
Tokoh utama yang diperankan oleh bintang cewek Park Sin-hye (menjadi Go Mi-nam/ Go Mi-nyu), bisa memerankan cewek  tomboy yang lugu. Menyamar sebagai cowok memang tidak jadi cowok2 amat. Masih terlihat sisi femininnya.Menangis kalau ada masalah, termasuk saat jatuh cinta. 
     Bintang utama cowok, Jang Geun-seok (menjadi Hwang Tae-kyung,leader dari grup band AN Jell) paling pas menjadi tokoh sinis yang pintar, perfeksionis, tapi menyimpan kasih sayang yang cukup besar, hanya saja dia tak tahu cara mengunggkapkannya. Karakternya cukup bisa diterima dari latar belakang masa kecilnya yang cukup lengkap. Sementara karakter Go Mi-nam tak didukung latar belakang yang lengkap.Jalan cerita yang runtut dan adegan-adegan menyentuh,  semua itu pastinya berkat skenario yang baik, ditambah pengarahan ketat adegan dan akting dari sutradara.
     Banyak adegan lucu yang membuat ngakak  penonton, antara lain saat keempat anggota AN Jell nonton rekaman video lama, untuk menghibur Go Minam. Juga saat Jeremy (anggota AN Jell termuda) dipeluk dari belakang oleh Go Minam, karena mengira 'cowok' itu menyukainya. Adegan Go-Minam memorak-porandakan kamar Tekyung, dia pingsan karena kejatuhan patung kayu, dan teman-temannya mengira ia dipukul oleh Tekyung. Masih banyak lagi.
     Banyak adegan romantis dan menyentuh, antara lain ketika Go Mi-nam menangis, dipeluk oleh Te Kyung, sambil ditonton oleh teman-teman mereka yang bingung.
Saat Tekyung menyanyikan lagu pilihan Minam dengan piano, juga saat Minam sakit, Tekyung mewaratnya  (mengompres dengan es).
     Ini cerita tentang anak-anak muda, dengan menampilkan grup band idola yang diciptakan khusus untuk cerita, AN Jell. Para bintang bukan pemain band, tapi penampilan mereka di panggung konser sangat meyakinkan. Didukung  oleh lagu-lagu menarik  (lagu-lagu serial Korea sebenarnya semua mirip)  dengan lirik yang sesuai dengan jalannya cerita (atau perasaan tokoh utamanya), ditambah setting tempat dan properti yang wah (rumah, kamar, mobil, baju) tak mengherankan jika serial ini disukai penonton muda, atau bahkan  ibu-ibu penyuka sinetron. Selain juga karena tokoh-tokohnya enak dilihat. Padahal sebenarnya ceritanya sangat ringan, tak masuk akal, dan ada bagian-bagian yang mirip dengan  cerita BBF atau Meteor  Garden (versi Taiwan), yaitu adanya seorang tokoh cowok penyayang yang suka membantu tokoh utama cewek, tapi cintanya ditolak oleh si gadis.   
     Ya, serial teve memang harus menghibur. Serial ini sangat menghibur. Romantis, lembut, tak ada adegan berantem atau kata-kata kasar, apalagi bentak-bentakan (seperti sinetron Indonesia).
    Bisakah kita membuat serial (film) semacam itu? Tak perlu muluk-muluk, cukup cerita yang ringan, lembut, dan menampilkan keindahan, meskipun itu hanya cerita mimpi.
     Yang penting BISA NGGAk SIH, BIKINNYA?

 

Senin, 20 September 2010

Rama Parasu

Wayang orang selalu menyimpan eksotika tersendiri. Ada seni, budaya, keindahan, dan filsafat hidup.
Setelah bertahun-tahun tak nonton wayang, malam minggu kemarin ada kesempatan. Undangannya dari Stephanus Hamy, desainer, dia diajak tampil sebagai bintang tamu.
Ceritanya: Rama Parasu. Kisah yang tidak populer, seperti misalnya Ramayana atau Mahabharata.
Ini kisah di zaman awal Rama & Sinta (keduanya baru menikah). Rama Parasu ingin mati karena dia menyesal setelah membunuhi banyak raja dan ksatria, karena  orang tua dan kakak-kakaknya dibantai oleh seorang raja congkak. Parasu membalas dendam pada orang lain.
Dia bertemu dengan Arjuna Sasrabahu, yang juga ingin mati karena ditinggal mati dua istrinya. Keduanya saling minta bunuh. Kata akhirnya, keduanya berlaga, siapa yang menang berarti titisan Dewa Wisnu. Yang mati Arjuna Sasrabahu, karena ia memang 'mengalah'. Parasu melanjutkan terornya pada Rama Wijaya yang baru menikah dengan Sinta. Tapi Rama tak mau membunuh Parasu, kendati dia yang menang (lebih jago, gitu). Karena Parasu masih punya kewajiban untuk membina ksatria2 lain untuk bertanding di Perang Bharatayuda, kelak. Salah satu muridnya adalah Bisma, sesepuh Pandawa dan Kurawa.
Huuu, ruwet, ya. Kalau saya tak punya referensi wayang pasti mumet.
Yang jelas tontonan satu ini cukup menarik. Pemainnya banyak, termasuk pemain pria. Heran juga, hareee geenee masih ada yang mau main wayang, yang bisa berdialog dengan bahasa Jawa Tinggi, dan bisa nembang dengan suara  lumayan. Ada beberapa wajah muda, dengan gerak tari yang cukup luwes. Ada pemain kawakan, seperti Kies Slamet, Kenthus, dan Sulistiyono. Sayangnya para bintang tamu tak disebut, misalnya di awal acara ketika MC membuka. Lha, saya cuma kenal Hamy.
Hamy sendiri mengaku sejak kecil suka nonton wayang, ketoprak, termasuk Srimulat dan Ludruk. Sudah lama dia diajak main wayang sebagai bintang tamu, tapi baru sekarang ini sempatnya. Katanya, partisipasinya kali ini didedikasikan kepada ayahnya tercinta.
Salut buat semua pencinta dan pelaku wayang dan seni tari Jawa pada umumnya.   

Jumat, 17 September 2010

Sang Pencerah

Nonton Sang Pencerah benar2 mencerahkan. Ini  film bagus. Semua 'fitur' dikerjakan dengan cermat, terencana, dan prima. Sinematografi bagus, lighting menarik, tata artistik cukup meyakinkan (mengingat setting-nya di zaman baheula, paling menarik Jalan Malioboro dengan tugunya yang jadul), musiknya juga oke banget (lagu Ilir2 penuh nostalgia).
Pemain? Yang menonjol pastinya Lukman Sardi sebagai tokoh utama (KH A. Dahlan) dan mbahnya aktor, Slamet Raharjo sebagai pimpinan mesjid besar. Pemain lain yang 'mencuri' perhatian adalah sahabat2 Ahmad Dahlan, yang dimainkan oleh antara lain Giring Niji, Mario Irwinsyah, dan Dennis Adiswara.
Dari komposisi tokoh2 itu terlihat mirip dengan perjuangan Nabi Muhammad saw. Entah kebetulan atau tidak, tapi dari sinilah munculnya keteladanan Nabinya kaum Muslim, dan cocok sekali dengan inti cerita, yakni sejarah lahirnya Muhamadiah, organisasi  yang nyatanya terus berkembang sampai sekarang dalam berbagai lini, dari madrasah, sekolah2 umum, sampai rumah sakit. 
Cerita yang pada dasarnya linier,  bisa dibuat dramatis dengan mengambil konflik2 seperi perobohan langgar (surau) dan ending diambil dengan jeli yaitu kesalahpahaman atas kata2 presiden (ketua) Muhamadiah, disangka residen. Tangan dingin  Hanung Bramantyo sangat terasa (tentu saja, dia  kan sutradaranya).
Menonton film ini tak hanya dihibur dengan tontonan menarik,  kita juga mengenal sejarah tanpa mengerutkan kening (sambil meng-ingat2 tanggal dan tahun).
Apakah film yang konon biayanya mencapai 12 M ini laku? Entahlah. Tapi waktu saya nonton di Puri XXI, beberapa hari setelah lebaran, yang nonton cuma 6 orang ... seakan nonton home theater  milik pribadi.
Jadi, sebaiknya Anda nonton, deh. Paling tidak untuk mencerahkan diri sendiri. Nggak rugi, kok.

Selasa, 31 Agustus 2010

Halo

Memulai sebuah Blog dengan semangat apresiasi yang baik.
Mari menilai semua hal dengan hati yang jernih.
Salam