Jumat, 17 September 2010

Sang Pencerah

Nonton Sang Pencerah benar2 mencerahkan. Ini  film bagus. Semua 'fitur' dikerjakan dengan cermat, terencana, dan prima. Sinematografi bagus, lighting menarik, tata artistik cukup meyakinkan (mengingat setting-nya di zaman baheula, paling menarik Jalan Malioboro dengan tugunya yang jadul), musiknya juga oke banget (lagu Ilir2 penuh nostalgia).
Pemain? Yang menonjol pastinya Lukman Sardi sebagai tokoh utama (KH A. Dahlan) dan mbahnya aktor, Slamet Raharjo sebagai pimpinan mesjid besar. Pemain lain yang 'mencuri' perhatian adalah sahabat2 Ahmad Dahlan, yang dimainkan oleh antara lain Giring Niji, Mario Irwinsyah, dan Dennis Adiswara.
Dari komposisi tokoh2 itu terlihat mirip dengan perjuangan Nabi Muhammad saw. Entah kebetulan atau tidak, tapi dari sinilah munculnya keteladanan Nabinya kaum Muslim, dan cocok sekali dengan inti cerita, yakni sejarah lahirnya Muhamadiah, organisasi  yang nyatanya terus berkembang sampai sekarang dalam berbagai lini, dari madrasah, sekolah2 umum, sampai rumah sakit. 
Cerita yang pada dasarnya linier,  bisa dibuat dramatis dengan mengambil konflik2 seperi perobohan langgar (surau) dan ending diambil dengan jeli yaitu kesalahpahaman atas kata2 presiden (ketua) Muhamadiah, disangka residen. Tangan dingin  Hanung Bramantyo sangat terasa (tentu saja, dia  kan sutradaranya).
Menonton film ini tak hanya dihibur dengan tontonan menarik,  kita juga mengenal sejarah tanpa mengerutkan kening (sambil meng-ingat2 tanggal dan tahun).
Apakah film yang konon biayanya mencapai 12 M ini laku? Entahlah. Tapi waktu saya nonton di Puri XXI, beberapa hari setelah lebaran, yang nonton cuma 6 orang ... seakan nonton home theater  milik pribadi.
Jadi, sebaiknya Anda nonton, deh. Paling tidak untuk mencerahkan diri sendiri. Nggak rugi, kok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar